![]()
Sejarah Singkat PT. (Persero) Kimia Farma Tbk PT. (Persero) Kimia Farma Tbk pada awalnya merupakan pabrik kina yang didirikan pada tahun 1896 berdasarkan akta notaris B.V. Houthuisen No. 102 tertanggal 29 juni 1896 dengan nama "Bandoengsche kinie fabrick N.V". pabrik ini merupakan pabrik pertama yang menghasilkan garam kina. Sebelum perang dunia ke 2, hasil garam yang di peroleh dalam bentuk tepung dan tablet mencapai 400 ton per tahun. Sebagian dari hasil tersebut di kirim ke pasaran dunia dan sisanya untuk kebutuhan dalam negri. Pada perang dunia ke 2, pabrik kina dikuasai oleh Angkatan Darat Jepang dan diberi nama "Rikungunkinie Seizosyo". Selama pendudukan Jepang pil kina yang dihasilkan di kirim semuanya ke Jepang, Pada tahun 1945 Jepang dikalahkan sekutu, sehingga pabrik kina diambil alih oleh Belanda. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya 3 November 1945 dengan akta notaris Mr. R. Soewardi No.47/1945, Pabrik kina ini diserahkan kepada "Indonesische Voor Chemische Industry". Sekitar tahun 1957-1959 pemerintah Republik Indonesia menasionalisasikan perusahaan-perusahaan farmasi milik Belanda, diantaranya N.V. Bandoengsche Kinie Fabrick dan N.V. Ondonerming Jodim Watudakon di Mojokerto. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1961, kedua perusahaan ini digabung menjadi satu perusahaan yang diberi nama PN farmasi dan alat-alat kesehatan Bhineka Kina Farma. Dalam rangka kebijaksanaan di bidang ekonomi dan hubungan dengan usaha pemerintah untuk mengurangi turut campur pemerintah secara langsung dalam kegiatan perusahaan negara, maka dikeluarkan Instruksi Presiden No. 17 tahun 1967 yang menyatakan agar perusahaan-perusahaan negara disederhanakan dan disempurnakan untuk diarahkan ke bentuk baru yaitu salah satu dari tiga bentuk usaha. Perusahaan Negara Jawatan, Perusahaan Negara Umum atau Perusahaan Negara Perseroan. Pelaksanaan dari instruksi presiden tersebut adalah dengan di keluarkannya Peraturan Pemarintah No. 3 tahun 1969 tanggal 23 Januari 1969 yaitu menggabungkan PBU Farmasi (Jakarta), PNF Bhineka kina Farma (Bandung), PNF Nakula Farma (Jakarta), PNF Radja Farma (Jakarta), serta PN Sari Husada (Yogyakarta) ke dalam satu perusahaan dengan nama Perusahaan Negara Farmasi Kimia Farma. Penggabungan ini bertujuan untuk memperkuat kedudukan perusahaan karena persaingan yang semakin berat di bidang farmasi dan alat kesehatan dan untuk mengarahkan perusahaan ke bentuk persero yang pelaksanaannya diserahkan kepada Departemen Keuangan. Pada tanggal 16 Agustus 1971 dibentuk persero dengan nama PT. Kimia Farma yang berkantor pusat di Jakarta , sedangkan Bhineka Kimia Farma menjadi salah satu Unit Produksi dengan nama PT. (Persero) Kimia Farma Produksi Bandung yang meliputi Pabrik Iodium Farmasi Watudakon di Mojokerto. Tetapi sejak tanggal 21 September 1979, berdasarkan Keputusan Direksi No. 36/89, PT. Kimia Farma Bidang Produksi, sedangkan pabrik Iodium Farmasi Watudakon di Mojokerto tidak lagi dibawah Bidang Produksi Bandung. Tahap berikutnya pada bulan April 1987, Bapenas menunjuk PT. (Persero) Kimia Farma untuk melaksanakan pembangunan Pabrik Pil KB. Dalam rangka pembangunan tersebut PT. (Persero) Kimia Farma bekerja sama dengan Bapenas, BKKBN, dan BAPINDO. Setelah mulai tahap persiapan, pada tanggal 12 Januari 1990 Pabrik Pil KB diresmikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Saat ini PT. (Persero) Kimia Farma Bidang Produksi Bandung dan Pabrik Pil KB digabung dalam satu wadah PT. (Persero) Kimia Farma Unit Produksi Formulasi Bandung (UPFB). PT. (Persero) Kimia Farma Unit Produksi Formulasi Bandung juga memproduksi berbagai obat seperti tablet, tablet salut film, tablet salut gula, sirup, obat suntik, kapsul, pil KB, alat kontrasepsi dan lain sebagainya. |
